Jika Trinitarian mengklaim bahwa kata “menciptakan” di ayat 22 tersebut salah, lalu bagaimana dengan terjemahan pada frase: “Permulaan pekerjaannya (ayat 22)”; “Perbuatannya yang pertama dahulu kala”; “Aku dibentuk (ayat 23)”; “sebelum gunung-gunung ada, aku [praeksistensi Yesus] telah lahir[1] (ayat 24,25) sebelum Ia [Yahweh] membuat dataran bumi (ayat 26)”; sebagai Anak[2] kesayanganNya (ayat 30)”.
Dari ayat-ayat tersebut jelas sekali bisa kita pahami bahwa Yesus (sang hikmat) adalah:
- CIPTAAN
- HASIL KERJA
- PERBUATAN ALLAH
- DIBENTUK
- DILAHIRKAN
- DIPERANAKKAN.
CATATAN:
[1] Istilah “lahir” dalam Alkitab mengacu pada arti diciptakan.
Lihat Mazmur 90:1-2 “gunung-gunung dilahirkan.”
Gunung dilahirkan = gunung diciptakan atau dibuat!
[2] Istilah “Anak” (mengandung arti diperanakkan) juga mengacu pada makna diciptakan.
Lihat : Mazmur 90:1-2 “bumi dan dunia diperanakkan.”
Bumi dan dunia diperanakkan = diciptakan atau dibuat!
Nah, jelas sekali Amsal 8: 22-30 banyak berbicara tentang praeksistensi Yesus sebagai mahluk ciptaan Yahweh, yang juga diistilahkan
lahir, dibentuk, permulaan pekerjaan Yahweh, perbuatan Yahweh yang pertama dan anak kesayangan (yang diperanakkan).
Lantas apakah terjemahan ayat 22-30 (yang membuktikan dengan akurat bahwa “hikmat” (praeksistensi Yesus) sebagai ciptaan dan hasil pekerjaan atau karya Yahweh yang pertama tersebut salah semua?
Bukankah sangat jelas dari ikatan kalimat pada rangkaian ayat 22-30 tersebut dapat dipahami bahwa Sang hikmat (praeksistensi Yesus) adalah HASIL KARYA atau CIPTAAN atau PEKERJAAN YANG PERTAMA dari Bapa (Yahweh)?
Artinya jelas "sang hikmat" (praeksistensi Yesus) adalah mahluk ciptaan, buatan, atau HASIL KARYA Yahweh!
Sekalipun oleh kaum Trinitarian ngotot kata “qanah” dalam ayat 22a tetap mati-matian mau diartikan sebagai “memiliki”, hal itu tentu tidak bisa lari dari ayat 22b-30-nya yang dengan tegas membuktikan bahwa Sang Hikmat (praeksistensi Yesus) jelas-jelas adalah Permulaan Pekerjaan Allah, Dibentuk, yang berarti DICIPTAKAN!
Kemudian jika kaum Trinitarian mengklaim pula bahwa kata “qanah” tidak tepat diartikan sebagai “mencipta”, klaim tersebut adalah suatu dusta besar!
Kata “qanah” dalam Alkitab jelas juga memiliki arti menciptakan.
Hal itu bisa kita simak dari contoh beberapa ayat berikut:
KEJADIAN 14:19, 22:
“Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Pencipta (qanah) langit dan bumi, kata Abram kepada raja negeri Sodom itu: Aku bersumpah demi Yahweh, Allah Yang Mahatinggi, Pencipta (qanah) langit dan bumi”.
Kata Ibrani “qanah” memang juga bisa berarti “memiliki atau memperoleh”, namun, dari ayat-ayat tersebut (juga menurut kamus Ibrani) bisa dipahami bahwa dalam bahasa Ibrani bukan hanya kata “bara” saja yang berarti mencipta, kata “qanah” terbukti akurat: juga bermakna mencipta!
Tetapi, sekali lagi, andaikata kaum Trinitarian masih ngotot mengatakan bahwa “qanah” dalam Amsal 8:22 harus diartikan sebagai memiliki atau memperoleh, maka klaim tersebut tidak bisa lepas dari rangkaian ayat 23-30nya yang mengungkap jelas bahwa sesungguhnya ‘sang hikmat’ adalah:
- Hasil Karya,
- Pekerjaan Allah Yang Pertama-Tama,
- Dibentuk, dan
- Diciptakan Oleh Allah!
Post a Comment
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.